Guru Mengajar dengan Hati, Bukan Sekadar Jam Kerja Seorang karyawan bekerja berdasarkan jam dan target. Ketika jam kerja selesai, tanggung jawab dianggap tuntas. Guru tidak demikian. Guru membawa pekerjaannya pulang dalam pikiran dan perasaan. Ia memikirkan murid yang tertinggal pelajaran, anak yang berubah sikapnya, atau siswa yang diam - diam kehilangan semangat belajar.
Namun dalam sistem yang terlalu korporatif, kerja guru sering diukur dari absensi, jumlah laporan, dan kepatuhan administrasi, bukan dari dampak nyata pada perkembangan murid. Guru yang hadir tepat waktu tapi mengajar seadanya dianggap “aman”, sementara guru yang kreatif namun kritis justru dinilai “tidak sejalan”.
Contoh konkret:
Guru yang menghabiskan waktu membimbing siswa bermasalah sering dianggap kurang produktif karena terlambat mengisi laporan atau tidak hadir di rapat administratif. Padahal, kerja kemanusiaannya jauh lebih penting daripada sekadar tanda tangan kehadiran.
Sekolah Bukan Pabrik, Murid Bukan Produk Ketika pendidikan dikelola seperti perusahaan, murid sering diperlakukan seperti produk yang harus memenuhi standar tertentu. Guru ditekan untuk mengejar angka kelulusan, nilai ujian, dan citra lembaga. Akibatnya, proses pendidikan kehilangan makna.
Guru tidak lagi bebas mendidik sesuai kebutuhan murid, tetapi dipaksa menyesuaikan dengan target lembaga. Jika target tidak tercapai, guru yang disalahkan.
Contoh konkret:
Guru diminta menaikkan nilai siswa demi menjaga reputasi sekolah. Ketika menolak karena ingin jujur dan mendidik dengan benar, guru justru ditegur karena dianggap “menghambat citra lembaga”.
Budaya Perintah, Minim Dialog Dalam sistem perusahaan, perintah dari atasan adalah hukum. Sayangnya, pola ini sering diterapkan mentah - mentah di sekolah. Guru jarang diajak berdiskusi, tetapi sering diminta patuh. Kritik dianggap ancaman, bukan masukan.
Padahal pendidikan membutuhkan ruang dialog, bukan sekadar hierarki kaku. Guru adalah mitra intelektual, bukan pekerja lapangan yang hanya menjalankan instruksi.
Contoh konkret:
Guru yang mengusulkan perubahan metode belajar justru dicap tidak loyal. Akhirnya, banyak guru memilih diam atau bahkan resign, karena merasa tidak lagi dihargai sebagai pendidik.
Dampak Buruk bagi Guru dan Murid Ketika guru diperlakukan seperti karyawan, yang rusak bukan hanya semangat guru, tetapi juga kualitas pendidikan. Guru menjadi takut salah, enggan berinovasi, dan bekerja sekadar untuk bertahan. Murid pun kehilangan sosok pendidik yang hadir secara utuh. Dalam jangka panjang, sekolah memang terlihat rapi secara administrasi, tetapi kering secara nilai dan relasi manusiawi.
Mengembalikan Martabat Guru Guru bukan anti-sistem, tetapi guru membutuhkan sistem yang memanusiakan. Administrasi penting, aturan perlu, tetapi semuanya harus menopang proses pendidikan, bukan membebani.
Pemimpin sekolah perlu memahami bahwa guru adalah penjaga nilai, pembentuk karakter, dan pendamping tumbuh murid, bukan sekadar sumber daya manusia. Sekolah yang sehat adalah sekolah yang: Mendengar suara guru, Menilai kinerja secara manusiawi, Memberi ruang tumbuh, bukan sekadar tuntutan.
Memperlakukan guru seperti karyawan mungkin terasa efisien, tetapi sesungguhnya merusak ruh pendidikan. Guru bukan mesin pencetak nilai, dan sekolah bukan perusahaan pencari citra. Jika pendidikan ingin benar - benar hidup, maka guru harus diperlakukan sebagai pendidik bermartabat, bukan sekadar pekerja dengan daftar target. Karena masa depan tidak dibentuk oleh sistem yang kaku, tetapi oleh manusia yang dimanusiakan.
"Guru bukan karyawan, tetapi pendidik dan pejuang."
( - Dr. (Hc). K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A., Alm )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar