Di banyak ruang sosial, gelar akademik sering diperlakukan seperti mahkota. S1, S2, S3 seolah menjadi tanda bahwa seseorang telah “selesai” sebagai manusia: selesai belajar, selesai bertumbuh, selesai mempertanyakan diri. Padahal, pendidikan sejatinya bukan garis akhir, melainkan pintu masuk ke ruang tanya yang lebih luas. Di sinilah ilusi itu bermula.
Kita hidup di budaya yang sangat menghargai simbol. Gelar adalah simbol. Ia tertulis di depan atau di belakang nama, tercetak rapi di undangan, tertera jelas di papan nama kantor, disebut berulang dalam forum resmi. Simbol ini perlahan membentuk persepsi: bahwa semakin panjang deretan huruf di nama seseorang, semakin tinggi pula kualitas dirinya. Padahal, realitas tidak selalu demikian.
Tidak sedikit orang yang berpendidikan tinggi, tetapi miskin empati. Cakap berbicara teori, tetapi gagap memahami perasaan orang lain. Mahir mengutip referensi, tetapi kaku dalam menghargai perbedaan pendapat. Terlatih berpikir sistematis, tetapi sulit bersikap bijaksana dalam konflik sehari-hari. Gelar akademik mengukur kemampuan seseorang dalam menyelesaikan sistem pendidikan. Ia tidak otomatis mengukur kedewasaan, kebijaksanaan, apalagi keluhuran akhlak.
Namun ilusi ini begitu kuat, hingga masyarakat sering tanpa sadar menjadikan gelar sebagai standar penghormatan. Orang dengan gelar tinggi cenderung lebih didengar, lebih dipercaya, lebih dihormati bahkan sebelum ia benar-benar menunjukkan kualitas dirinya. Sebaliknya, mereka yang tanpa gelar sering kali harus bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan kapasitasnya. Inilah bias intelektual yang jarang kita sadari.
Lebih jauh lagi, ilusi ini tidak hanya hidup di masyarakat, tetapi juga merasuk ke dalam diri pemilik gelar itu sendiri. Ada rasa percaya diri yang berlebihan. Ada kecenderungan merasa lebih tahu. Ada sikap defensif ketika dikritik, seolah kritik itu meruntuhkan “otoritas intelektualnya”. Di titik ini, pendidikan justru berhenti mendidik.
Sebab inti dari pendidikan bukanlah merasa paling tahu, tetapi menyadari betapa banyak hal yang belum kita ketahui. Bukan merasa paling benar, tetapi siap merevisi pemahaman ketika menemukan kebenaran baru. Bukan merasa lebih tinggi, tetapi semakin rendah hati karena luasnya ilmu yang belum digapai.
Ironisnya, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar pula potensi terjebak dalam ilusi intelektual ini jika tidak disertai kesadaran diri.
Kita sering lupa bahwa kampus melatih otak, tetapi kehidupan melatih kebijaksanaan. Buku mengajarkan konsep, tetapi interaksi sosial mengajarkan empati. Ruang kuliah membentuk logika, tetapi realitas membentuk kedewasaan.
Seseorang bisa lulus dengan nilai sempurna, tetapi gagal memahami manusia.
Seseorang bisa menulis tesis dan disertasi yang cemerlang, tetapi tidak mampu berdialog dengan tenang saat berbeda pendapat.
Seseorang bisa menguasai teori kepemimpinan, tetapi bersikap otoriter dalam praktik. Di sinilah batas gelar akademik terlihat jelas.
Gelar adalah capaian administratif. Ia menandakan bahwa seseorang telah memenuhi syarat kurikulum, menyelesaikan tugas akademik, dan lulus dari sistem yang terstruktur. Itu prestasi yang layak dihargai. Namun, menjadikannya ukuran kesempurnaan manusia adalah kekeliruan besar. Kesempurnaan manusia tidak pernah diukur dari ijazah, melainkan dari cara ia memperlakukan orang lain.
Dari caranya mendengar sebelum berbicara.
Dari caranya menghargai sebelum menghakimi.
Dari caranya bersikap ketika memiliki kuasa.
Justru orang yang benar-benar terdidik biasanya tidak terlalu sibuk menunjukkan gelarnya. Ia lebih sibuk menunjukkan kualitas pikirannya melalui sikap, tutur kata, dan keputusan-keputusannya.
Ia sadar bahwa gelar hanyalah pintu, bukan isi rumah.
Maka, mungkin sudah saatnya kita meluruskan cara pandang ini. Menghargai pendidikan tinggi tanpa mengkultuskan gelar. Menghormati orang bukan karena huruf di namanya, tetapi karena nilai dalam dirinya. Karena pada akhirnya, dunia tidak diubah oleh orang yang paling banyak gelarnya, tetapi oleh orang yang paling bijak menggunakan ilmunya.