Beberapa tahun terakhir, semakin banyak guru dan tenaga kependidikan yang memilih resign. Mereka pergi bukan dengan sorak, tetapi dengan diam. Tidak sedikit yang keluar tanpa konflik terbuka, tanpa perlawanan, bahkan tanpa suara. Fenomena ini sering dianggap sebagai masalah pribadi guru tidak kuat, tidak loyal, atau kurang bersyukur. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, gelombang resign ini justru menjadi alarm keras bagi kepemimpinan sekolah.
Resign Bukan Soal Tidak Tahan Mengajar Banyak orang mengira guru resign karena tidak kuat menghadapi murid atau beban mengajar. Faktanya, sebagian besar guru yang mundur justru sangat mencintai dunia pendidikan. Mereka tahan dengan kelas ramai, nilai murid yang naik - turun, bahkan fasilitas yang terbatas. Yang sering membuat guru pergi bukan murid, melainkan sistem dan cara memimpin. Guru lelah ketika pendapatnya tidak pernah didengar, ketika kerja kerasnya dianggap biasa, dan ketika kritik selalu dibalas dengan ancaman atau label “tidak sejalan dengan lembaga”.
Contoh nyata bisa kita temukan di banyak sekolah:
guru diminta inovatif, tetapi setiap ide baru ditolak; diminta loyal, tetapi hak dasar sering diabaikan; diminta sabar, tetapi terus ditekan secara emosional.
Kepemimpinan yang Anti-Dengar Salah satu akar masalah terbesar adalah kepemimpinan yang tidak mau mendengar. Dalam beberapa lembaga pendidikan, pemimpin merasa cukup memberi perintah, tanpa merasa perlu berdialog. Rapat hanya formalitas, bukan ruang aman untuk berbicara jujur. Guru yang menyampaikan kritik dianggap pembangkang. Guru yang diam dianggap patuh. Lama - kelamaan, suasana kerja menjadi kaku dan menekan. Dalam kondisi seperti ini, resign sering dipilih sebagai jalan paling aman dan bermartabat. Bukan karena guru tidak peduli, tetapi karena bertahan justru melukai diri sendiri.
Beban Kerja Tak Seimbang dan Minim Apresiasi Masalah lain yang sering memicu resign adalah beban kerja yang tidak manusiawi. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mengurus administrasi yang berlapis - lapis, laporan yang berulang, hingga tugas di luar jam kerja yang dianggap “pengabdian”. Ironisnya, ketika guru kelelahan, yang muncul justru tuntutan tambahan, bukan empati. Apresiasi sering hanya berupa ucapan, sementara kesejahteraan, kejelasan peran, dan rasa aman nyaris diabaikan. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat guru kehabisan energi batin. Resign pun bukan lagi pilihan emosional, melainkan keputusan rasional untuk bertahan hidup secara mental.
Resign adalah Pesan, Bukan Pengkhianatan Sayangnya, banyak pimpinan sekolah melihat resign sebagai bentuk ketidaksetiaan. Padahal, resign adalah pesan penting yang seharusnya dibaca dengan jujur. Jika satu guru pergi, mungkin itu soal pribadi. Tapi jika banyak guru pergi dalam waktu berdekatan, maka jelas ada yang salah dalam sistem kepemimpinan. Sekolah boleh mencari pengganti, tetapi iklim yang rusak tidak akan membaik hanya dengan orang baru. Tanpa evaluasi kepemimpinan, gelombang resign akan terus berulang.
Saatnya Pemimpin Sekolah Berkaca Gelombang resign tenaga pendidik seharusnya menjadi momen refleksi, bukan pembenaran diri. Pemimpin sekolah perlu bertanya dengan jujur: Apakah guru merasa aman berbicara?, Apakah kebijakan dibuat bersama atau sepihak?, Apakah guru dipandang sebagai manusia, bukan sekadar tenaga kerja?.
Kepemimpinan pendidikan bukan soal kuasa, tetapi soal kehadiran, empati, dan keteladanan. Sekolah yang sehat bukan sekolah yang memaksa guru bertahan, tetapi sekolah yang membuat guru ingin bertahan.
Ketika guru memilih resign, sesungguhnya mereka sedang memberi sinyal darurat. Jika alarm ini terus diabaikan, yang hilang bukan hanya tenaga pendidik, tetapi ruh pendidikan itu sendiri. Sudah saatnya kepemimpinan sekolah berhenti menutup telinga, dan mulai membuka ruang dialog yang jujur dan manusiawi.
Karena pendidikan yang baik lahir dari pemimpin yang mau belajar bahkan dari kritik yang paling tidak nyaman.
( - M. Giovnny Aulia' Vikry Firmansyah,S.Pd)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar