Lembaga pendidikan Islam dulunya dikenal sebagai ruang pengabdian. Pesantren, madrasah, dan sekolah Islam lahir dari keikhlasan, wakaf, dan semangat mencerdaskan umat. Guru mengajar bukan semata karena gaji, orang tua menyekolahkan anak bukan untuk gengsi, dan pendidikan dipahami sebagai jalan ibadah.
Namun hari ini, wajah itu perlahan berubah. Tanpa disadari, sebagian lembaga pendidikan Islam mulai bergerak dengan logika pasar. Kapitalisme hadir dengan wajah yang lebih halus, lebih sopan, bahkan dibungkus dengan bahasa agama. Inilah yang bisa disebut sebagai kapitalisme gaya baru.
Pendidikan yang Mulai Diperjualbelikan
Sekolah dan pesantren kini tidak lagi sekadar tempat belajar, tetapi juga “produk” yang dipasarkan. Brosur, spanduk, dan media sosial penuh dengan janji: fasilitas terbaik, program unggulan, target hafalan, hingga jaminan masa depan. Semua terdengar meyakinkan.
Masalahnya, pendidikan mulai diukur dari seberapa mahal biayanya dan seberapa bagus citranya. Orang tua berubah menjadi pelanggan. Siswa menjadi komoditas. Yang penting jumlah murid bertambah, gedung makin besar, dan nama lembaga makin dikenal. Sementara proses mendidik sering kali hanya menjadi urusan nomor dua.
Guru yang Diminta Ikhlas, Tapi Terlupakan
Di tengah gemerlap citra lembaga, guru sering berada di posisi paling lemah. Mereka dituntut total mengabdi, bekerja melebihi jam, dan selalu siap diminta apa saja. Ketika menuntut hak, yang datang justru nasihat tentang keikhlasan dan pahala.
Ironisnya, manajemen lembaga bisa sangat tegas soal target, disiplin, dan citra, tetapi longgar soal kesejahteraan guru. Guru diminta sabar, sementara lembaga sibuk menghitung pemasukan. Di sinilah kapitalisme bekerja diam - diam: tenaga diambil, suara dibungkam, dan semuanya dibenarkan atas nama agama.
Simbol Islam Lebih Penting dari Nilainya
Kapitalisme gaya baru ini juga terlihat dari bagaimana simbol-simbol Islam dipakai sebagai alat jual. Label “Islam”, “sunnah”, “tahfidz”, atau “berbasis akhlak” sering dipajang di depan, tetapi tidak selalu hadir dalam praktik sehari - hari.
Anak - anak diajarkan adab, tetapi melihat ketidakadilan. Mereka diminta jujur, tetapi menyaksikan manipulasi. Mereka diajak taat, tetapi tidak diajak berdialog. Pendidikan akhirnya hanya melahirkan kepatuhan, bukan kesadaran.
Manajemen yang Sibuk Mengelola, Lupa Mendidik
Ketika lembaga pendidikan Islam terlalu fokus pada pertumbuhan, ekspansi, dan stabilitas finansial, pendidikan berubah menjadi urusan administrasi. Rapat demi rapat digelar, laporan terus dibuat, target terus dinaikkan.
Sayangnya, ruang mendengar guru, siswa, dan orang tua justru menyempit. Kritik dianggap mengganggu. Masukan dipandang sebagai ancaman. Padahal lembaga pendidikan seharusnya menjadi ruang belajar bagi semua, termasuk bagi para pemimpinnya.
Mengembalikan Pendidikan ke Jalan Ibadah
Tulisan ini bukan untuk menyerang lembaga pendidikan Islam, tetapi untuk mengingatkan. Pendidikan Islam tidak boleh kehilangan ruhnya. Ia tidak boleh menjadi mesin uang yang berbalut ayat dan simbol kesalehan.
Keikhlasan tidak boleh dipaksa. Profesionalisme tidak boleh dipisahkan dari keadilan. Dan agama tidak boleh dijadikan tameng untuk menutup ketimpangan.
Jika lembaga pendidikan Islam ingin benar - benar menjadi cahaya, maka ia harus berani bercermin: apakah kita sedang mendidik manusia, atau sedang mengelola bisnis bernama sekolah?
Kapitalisme gaya baru jauh lebih berbahaya karena ia tidak datang dengan wajah kasar, melainkan dengan senyum dan jargon religius. Ia membuat ketidakadilan terasa wajar dan eksploitasi tampak sebagai pengabdian. Sudah saatnya lembaga pendidikan Islam kembali pada niat awalnya: mendidik dengan hati, mengelola dengan amanah, dan menjadikan pendidikan sebagai jalan ibadah bukan sekadar ladang keuntungan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar