Di banyak sekolah, sering kali muncul sebuah kegiatan yang “tiba-tiba ada”. Pagi hari guru datang seperti biasa, lalu di papan pengumuman atau grup pesan singkat sudah terpampang jadwal kegiatan baru yang harus dilaksanakan hari itu juga. Tidak ada rapat sebelumnya. Tidak ada diskusi. Tidak ada ruang bertanya. Guru hanya menerima informasi, lalu menjalankan.
Fenomena ini bukan sekadar soal teknis komunikasi yang terlewat. Ia mencerminkan pola manajemen sekolah yang menempatkan guru bukan sebagai mitra berpikir, melainkan sebatas pelaksana teknis program. Padahal, guru adalah pihak yang paling memahami kondisi siswa, ritme kelas, dan realitas pembelajaran sehari-hari. Ketika program lahir tanpa musyawarah, yang hilang bukan hanya partisipasi, tetapi juga rasa memiliki.
Guru Diposisikan sebagai “Tenaga Eksekusi” Dalam banyak kasus, program sekolah disusun di ruang tertutup oleh segelintir pimpinan. Pertimbangan yang dipakai sering kali administratif: memenuhi target dinas, menyambut kunjungan, atau mengejar citra sekolah. Sementara pertimbangan pedagogis apakah program itu selaras dengan kebutuhan belajar siswa tidak pernah benar-benar diuji melalui diskusi bersama guru.
Akibatnya, guru berada di posisi sulit. Mereka harus menjalankan kegiatan yang kadang: Mengganggu jadwal pembelajaran yang sudah tersusun rapi, Tidak relevan dengan kebutuhan siswa saat itu, Menambah beban kerja tanpa kejelasan tujuan, Membuat kelas menjadi tidak efektif. Namun karena budaya sekolah tidak memberi ruang dialog, guru memilih diam. Diam bukan karena setuju, tetapi karena merasa suaranya tidak dibutuhkan.
Contoh Konkret di Lapangan Kegiatan Seremonial yang Menguras Energi, Tiba-tiba ada agenda penyambutan tamu penting. Guru diminta melatih siswa menyanyi, menari, dan berbaris rapi selama dua hari penuh. Semua pelajaran dihentikan. Padahal, guru mengetahui bahwa minggu itu adalah minggu remedial bagi banyak siswa. Kesempatan memperbaiki nilai hilang begitu saja demi acara seremonial.
Dampak Psikologis pada Guru Ketika guru terus-menerus tidak dilibatkan, muncul beberapa dampak: Menurunnya rasa memiliki terhadap program sekolah, Guru merasa itu bukan program “kita”, tetapi program “mereka”, Hilangnya kreativitas dan inisiatif, Untuk apa berpendapat jika tidak pernah diminta?, Muncul sikap apatis, Guru menjalankan sekadar menggugurkan kewajiban, Hubungan yang renggang antara pimpinan dan guru, Komunikasi menjadi satu arah: perintah dan laporan. Padahal, sekolah yang sehat lahir dari kolaborasi, bukan instruksi.
Mengapa Musyawarah Itu Penting? Musyawarah bukan sekadar formalitas rapat. Ia adalah proses menyelaraskan: Tujuan program, Kondisi riil siswa, Kesiapan guru, Waktu pelaksanaan, Dampak terhadap pembelajaran. Ketika guru diajak berdiskusi, sering kali mereka justru memberi solusi yang lebih realistis dan efektif. Program menjadi lebih matang, pelaksanaan lebih ringan, dan hasil lebih terasa.
Dari Instruksi Menuju Kolaborasi Kepemimpinan sekolah yang kuat bukan yang paling cepat membuat program, tetapi yang paling mampu mengajak guru berpikir bersama. Karena pada akhirnya, yang menjalankan program di kelas bukan kepala sekolah, melainkan guru. Jika guru hanya dijadikan pelaksana, maka sekolah akan sibuk dengan kegiatan, tetapi miskin makna. Namun jika guru dilibatkan sejak awal, kegiatan sederhana pun bisa berdampak besar.
"Program tanpa musyawarah mungkin bisa berjalan, tetapi jarang benar-benar hidup. Ia hanya selesai dilaksanakan, bukan dirasakan manfaatnya."
( - M. Giovanny Aulia' Vikry Firmansyah,S.Pd)
Sudah saatnya sekolah menyadari bahwa guru bukan sekadar tangan yang bekerja, tetapi pikiran yang harus diajak bicara. Karena dari sanalah lahir program yang bukan hanya terlaksana, tetapi juga bermakna bagi pendidikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar