Di banyak ruang kerja, orang sering keliru memahami apa yang sebenarnya membuat seseorang dihormati. Mereka mengira jabatan adalah sumber wibawa. Padahal, jabatan hanya memberi wewenang, bukan penghormatan. Wewenang bisa diberikan melalui surat keputusan. Tetapi penghormatan lahir dari cara seseorang memperlakukan orang lain dan itu tidak pernah bisa dipaksakan. Jabatan bisa dicabut kapan saja. Masa tugas bisa berakhir. Kursi bisa berganti nama. Tetapi jejak sikap, cara berbicara, cara mendengar, cara menghargai, akan tinggal lama di ingatan orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya. Banyak pemimpin lupa pada hal ini.
Saat menjabat, mereka sibuk memastikan perintah dijalankan, target tercapai, aturan dipatuhi. Namun sering luput memastikan satu hal yang lebih penting: apakah orang-orang di sekitarnya merasa dihargai sebagai manusia?
Ada kepala sekolah yang dikenal sangat disiplin. Semua program berjalan rapi. Administrasi sempurna. Tapi guru-guru merasa tidak pernah diajak berdiskusi. Setiap ide baru datang sebagai keputusan, bukan hasil musyawarah. Ketika masa jabatannya selesai, yang diingat bukan keberhasilan programnya, tetapi rasa sesak yang pernah dirasakan di ruang guru.
Sebaliknya, ada pemimpin yang mungkin tidak terlalu menonjol dalam pencapaian formal, tetapi selalu membuka ruang dialog. Ia mendengar sebelum memutuskan. Ia menghargai pendapat, bahkan dari guru yang paling muda. Ketika ia tidak lagi menjabat, namanya masih sering disebut dengan hangat. Bukan karena programnya, tetapi karena sikapnya. Di sinilah letak perbedaannya. Jabatan bekerja di ranah struktural. Sikap bekerja di ranah emosional dan kemanusiaan. Dan manusia lebih lama mengingat perasaan daripada struktur.
Orang mungkin lupa apa keputusan yang pernah kita buat, tetapi mereka tidak pernah lupa bagaimana perasaan mereka saat berada di dekat kita. Apakah mereka merasa takut? Apakah mereka merasa ditekan? Atau justru merasa dihargai dan didengarkan? Waktu akan menghapus banyak hal, tetapi tidak dengan pengalaman batin seseorang.
Sering kali, seseorang baru menyadari hal ini setelah jabatannya berakhir. Ketika tidak ada lagi bawahan yang menyapa dengan hormat. Ketika ruang kerja terasa sunyi. Ketika undangan rapat tidak lagi datang. Di titik itu, barulah terasa bahwa yang dulu mendekat mungkin bukan karena pribadi, tetapi karena posisi. Dan yang tersisa hanyalah kenangan tentang bagaimana ia dulu memperlakukan orang.
Karena itu, menjadi pemimpin sejatinya bukan tentang bagaimana mengatur orang, tetapi bagaimana memanusiakan orang.
Memanggil nama dengan baik.
Mendengar tanpa memotong.
Mengkritik tanpa merendahkan.
Menegur tanpa mempermalukan.
Mengapresiasi tanpa pilih kasih.
Hal-hal kecil yang sering dianggap sepele inilah yang justru melekat kuat di ingatan.
Dalam dunia pendidikan, hal ini menjadi sangat nyata. Guru tidak hanya bekerja dengan akal, tetapi juga dengan perasaan. Mereka bisa patuh karena aturan, tetapi mereka hanya akan loyal karena perlakuan. Kepala sekolah, koordinator, atau pimpinan lembaga boleh saja memiliki kuasa struktural. Namun yang menentukan suasana kerja bukanlah kuasa itu, melainkan cara kuasa tersebut dijalankan.
Apakah dengan otoritas yang menekan?
Atau dengan kebijaksanaan yang menenangkan?
Jabatan memang memberi jarak. Tetapi sikap yang baik justru mampu mendekatkan. Dan cerita itu tidak pernah tentang berapa banyak aturan yang kita buat, tetapi tentang bagaimana kita membuat mereka merasa diperlakukan. Maka, bijaklah dalam bersikap selama masih memiliki jabatan. Karena ketika jabatan itu tidak lagi ada, satu-satunya yang tertinggal adalah cerita orang tentang diri kita.
Pada akhirnya, jabatan hanyalah fase. Sikap adalah identitas.
"Jabatan bisa dicabut. Jejak sikap akan melekat."
( - M. Giovanny Aulia' Vikry Firmansyah,S.Pd )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar