Ada pemimpin yang ketika diberi masukan tentang komunikasinya yang keras, caranya yang melukai, atau keputusannya yang sepihak, justru menjawab santai: “Memang saya dari dulu begini. Ini bawaan.”
Kalimat ini terdengar jujur, tapi sejatinya berbahaya. Ia bukan sekadar pernyataan diri, melainkan penolakan halus terhadap tanggung jawab kepemimpinan.
Kalimat Jujur yang Menjadi Senjata “Saya memang begini” sering dipakai seolah - olah itu kejujuran tingkat tinggi. Padahal, dalam banyak kasus, itu adalah cara elegan untuk berkata: “Saya tidak mau berubah.” Lebih parah lagi, kalimat ini sering diucapkan oleh mereka yang berada di puncak kekuasaan yang ucapannya menentukan suasana, mental, dan masa depan banyak orang. Pemimpin seperti ini ingin dimaklumi, tapi enggan memahami. Ingin dihormati, tapi menolak bercermin. Ia menuntut kedewasaan dari orang lain, namun menolak mendewasakan dirinya sendiri.
Contoh Konkret di Lapangan: Bayangkan seorang kepala lembaga yang berbicara dengan nada tinggi dalam rapat. Kritik disampaikan dengan sindiran, kesalahan diumumkan di depan umum, dan keputusan diambil tanpa penjelasan. Ketika ada guru yang memberanikan diri berkata, “Ustazd, cara komunikasinya sering membuat kami tertekan,” jawabannya singkat: “Saya memang orangnya tegas. Dari dulu juga begini.” Akibatnya? Guru berhenti bicara, bukan karena setuju, tapi karena lelah. Rapat jadi formalitas, bukan ruang berpikir. Masalah disimpan, bukan diselesaikan. Loyalitas berubah jadi keterpaksaan. Secara lahiriah lembaga tampak berjalan. Tapi batinnya keropos.
Watak Dijadikan Dalih, Luka Dianggap Biasa Yang paling menyedihkan, komunikasi yang melukai dianggap hal wajar karena datang dari “pemimpin”. Nada kasar disebut ketegasan. Sikap dingin disebut wibawa. Padahal, yang terjadi sebenarnya adalah kegagalan mengelola diri. Watak bukan alasan untuk menyakiti. Bawaan bukan pembenaran untuk merusak. Jika watak buruk terus dipelihara, itu bukan kejujuran itu pembiaran.
Pemimpin yang Berhenti Belajar Pemimpin yang berkata “saya memang begini” sejatinya sedang menyatakan pensiun dari proses belajar. Ia menutup pintu muhasabah, mematikan nasihat, dan membunuh dialog. Lebih ironis lagi, ini sering terjadi di lembaga pendidikan tempat orang seharusnya paling sadar bahwa manusia itu dibentuk, bukan ditakdirkan beku.
Bagaimana mungkin seseorang menuntut murid, guru, atau staf untuk berkembang, jika dirinya sendiri alergi terhadap perubahan?
Tegas Itu Beda dengan Keras Ketegasan lahir dari kejelasan dan keadilan. Kekerasan lahir dari ego dan kemalasan emosional. Pemimpin yang tidak mau belajar berkomunikasi sering menyamakan keduanya, karena belajar mengelola diri memang melelahkan. Padahal, pemimpin yang benar - benar kuat adalah yang berani mengubah caranya, bukan yang keras kepala mempertahankan wataknya.
Kepemimpinan Bukan Hak untuk Menyakiti Kalimat “Saya memang begini” mungkin sah untuk urusan pribadi. Tapi ketika seseorang memilih menjadi pemimpin, kalimat itu harus ditinggalkan. Kepemimpinan bukan tentang menjadi diri sendiri sebebas - bebasnya, tetapi tentang bertanggung jawab atas dampak diri kita pada orang lain.
"Pemimpin yang menolak bertumbuh bukan hanya mandek secara pribadi, tetapi menyeret seluruh lembaga ke dalam kebekuan. Dan sejarah selalu mencatat: banyak lembaga runtuh bukan karena kekurangan orang pintar, tetapi karena dipimpin oleh orang yang merasa dirinya sudah selesai."
( - M. Giovanny Aulia' Vikry Firmansyah,S.Pd. )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar