2 Jan 2026

Mendidik dengan Sistem yang Belum Dewasa



Di banyak lembaga pendidikan, kita sering menuntut peserta didik untuk bersikap dewasa: disiplin, bertanggung jawab, jujur, dan patuh pada aturan. Namun ironisnya, sistem yang menaungi proses pendidikan itu sendiri kerap belum menunjukkan kedewasaan. Aturan dibuat tergesa - gesa, kebijakan berubah tanpa evaluasi, dan keputusan diambil tanpa mendengar suara guru maupun realitas di lapangan. Di sinilah problem besar pendidikan bermula: mendidik dengan sistem yang belum dewasa.

Sistem yang Lebih Suka Mengatur daripada Memahami Sistem pendidikan yang belum dewasa biasanya gemar menumpuk aturan, tetapi miskin empati. Fokusnya lebih pada kepatuhan administratif ketimbang kualitas proses belajar. Guru dituntut mengisi laporan berlapis, sementara waktu untuk mendidik secara manusiawi justru tergerus. 

Contoh konkret: Seorang guru diminta menyelesaikan perangkat pembelajaran yang rumit dan laporan daring yang berulang, padahal fasilitas minim dan jaringan internet sering bermasalah. Ketika laporan terlambat, guru ditegur. Namun ketika proses belajar terganggu, sistem seolah menutup mata. Di sini terlihat bahwa sistem lebih sibuk menjaga wajah administrasi daripada substansi pendidikan.

Kebijakan yang Tidak Tuntas Dipikirkan Sistem yang dewasa lahir dari refleksi dan evaluasi. Sebaliknya, sistem yang belum dewasa sering melahirkan kebijakan instan, reaktif, dan tidak berakar pada kebutuhan nyata. 

Contoh konkret: Pergantian kurikulum yang cepat tanpa pendampingan memadai. Guru dipaksa beradaptasi dalam waktu singkat, sementara pelatihan hanya bersifat formalitas. Akibatnya, guru bingung, siswa kebingungan, dan tujuan pendidikan kabur. Sistem berjalan, tetapi tanpa arah yang jelas.

Budaya Menyalahkan, Bukan Memperbaiki Ciri lain sistem yang belum dewasa adalah gemar mencari kambing hitam. Ketika mutu pendidikan menurun, guru disalahkan. Ketika siswa bermasalah, murid dianggap tidak disiplin. Jarang sekali lembaga bercermin dan bertanya: apakah sistem yang kami bangun sudah manusiawi?

Contoh konkret: Saat nilai siswa menurun, guru ditekan untuk “menaikkan angka” agar citra sekolah tetap baik. Bukan metode pembelajaran yang dievaluasi, bukan beban siswa yang dikaji, tetapi hasil akhir yang dipoles. Pendidikan akhirnya berubah menjadi proyek pencitraan, bukan proses pembentukan manusia.

Keteladanan Institusi yang Hilang Lembaga pendidikan sejatinya adalah pendidik kolektif. Ia bukan hanya mengajar lewat kurikulum, tetapi lewat sikap, kebijakan, dan cara memperlakukan warganya. Ketika lembaga menuntut kejujuran, tetapi praktiknya sarat manipulasi; menuntut kedisiplinan, tetapi kebijakannya inkonsisten maka pesan pendidikan menjadi kontradiktif.

Contoh konkret: Sekolah melarang siswa terlambat dengan hukuman tegas, tetapi rapat guru sering molor dan keputusan pimpinan berubah - ubah. Pesan moral apa yang sebenarnya sedang diajarkan?

Menuju Sistem yang Dewasa Sistem pendidikan yang dewasa bukan sistem yang sempurna, melainkan sistem yang mau belajar. Ia berani mengakui kesalahan, membuka ruang dialog, dan menjadikan guru serta siswa sebagai subjek, bukan objek kebijakan. Kedewasaan sistem tampak dari kemampuannya mendahulukan nilai daripada sekadar aturan.

"Pendidikan tidak akan pernah matang jika hanya menuntut kedewasaan dari peserta didik, sementara lembaga dan sistemnya enggan bertumbuh. Sebab mendidik sejatinya bukan hanya soal siapa yang diajar, tetapi juga siapa yang bersedia belajar termasuk lembaga itu sendiri." 
(M. Giovanny Aulia' Vikry Firmansyah,S.Pd)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dari Visi ke Aksi: Rahasia Lembaga Pendidikan yang Terus Bertumbuh

Banyak sekolah memiliki visi yang indah. Kalimatnya tertulis rapi di dinding ruang kepala sekolah, tercantum di brosur penerimaan peserta di...