Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan pendidikan tinggi. Justru sebaliknya, ia lahir dari kegelisahan akan kenyataan yang sering kita temui di lapangan.
Gelar Naik, Sikap Tetap Di dunia pendidikan, kita tak jarang menjumpai dosen atau guru bergelar doktor, bahkan profesor, namun alergi terhadap kritik. Ketika mahasiswa atau guru junior mengajukan pendapat berbeda, yang muncul bukan dialog, melainkan ancaman nilai, teguran administratif, atau cap “tidak sopan”. Padahal, pendidikan tinggi seharusnya melahirkan manusia yang lapang pikiran, bukan sekadar tinggi gelar. Ilmu yang dalam mestinya membuat seseorang makin sadar bahwa dirinya bisa salah. Namun di lapangan, gelar justru kadang dipakai sebagai tameng kekuasaan: “Saya doktor, Anda siapa?”
Kampus yang Ramai Gelar, Sepi Keteladanan Realitas lain terlihat di kampus - kampus. Banyak dosen mengejar publikasi bukan karena dorongan keilmuan, melainkan tuntutan kenaikan jabatan. Jurnal menjadi target administratif, bukan ruang dialog ilmiah. Tak sedikit pula kasus plagiarisme, manipulasi data, hingga praktik “jual-beli authorship” yang mencoreng dunia akademik.
Ironisnya, semua itu dilakukan oleh mereka yang secara formal telah melewati jenjang pendidikan tertinggi. Di sini kita melihat bahwa kepintaran akademik tidak otomatis melahirkan integritas.
Di Sekolah: Guru Bergelar, Murid Tertekan Fenomena serupa juga terjadi di sekolah. Ada guru yang telah menyandang gelar magister pendidikan, mengikuti berbagai pelatihan, namun masih mengajar dengan cara otoriter: murid tidak boleh bertanya, tidak boleh berbeda pendapat, apalagi mengkritik. Di lapangan, banyak siswa justru merasa takut pada guru, bukan hormat. Mereka belajar untuk patuh, bukan berpikir. Padahal tujuan pendidikan bukan mencetak manusia yang diam, tetapi manusia yang bernalar dan berani bertanggung jawab atas pikirannya.
Ketika Gelar Menjadi Alat Gengsi Di masyarakat luas, gelar akademik sering kali diperlakukan sebagai status sosial, bukan amanah keilmuan. Tidak sedikit orang berlomba kuliah bukan untuk memperdalam ilmu, tetapi demi titel. Akhirnya, orientasi belajar bergeser: yang penting lulus, yang penting dapat gelar, soal paham atau tidak, itu urusan nanti. Kondisi ini diperparah dengan sistem yang terlalu menekankan ijazah dalam rekrutmen kerja, sementara karakter, etika, dan kemampuan berpikir kritis sering dinomorduakan. Akibatnya, kita menemukan orang-orang bergelar tinggi, tetapi gagap menghadapi persoalan nyata di masyarakat.
Kebijaksanaan Tidak Diajarkan di Ruang Sidang Kebijaksanaan tidak selalu lahir dari ruang kuliah, seminar, atau sidang disertasi. Ia tumbuh dari kerendahan hati, dari keberanian mendengar, dari kesediaan belajar dari pengalaman dan dari orang lain bahkan dari mereka yang tidak bergelar.
Seorang profesor yang bijaksana tidak sibuk menuntut dihormati, tetapi sibuk memberi teladan. Ia tidak merasa terancam oleh kritik, karena yakin bahwa kebenaran tidak pernah takut diuji. Sebaliknya, orang yang hanya bergantung pada gelar akan mudah tersinggung ketika wibawanya dipertanyakan.
Pendidikan Tinggi yang Kehilangan Arah Kondisi lapangan hari ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi kita sedang menghadapi krisis makna. Gelar terus diproduksi, tetapi kebijaksanaan tidak selalu ikut tumbuh. Kampus menjadi pabrik ijazah, sementara nilai kejujuran, empati, dan tanggung jawab sosial kerap tertinggal. Jika hal ini terus dibiarkan, pendidikan akan kehilangan rohnya. Kita akan melahirkan generasi pintar secara akademik, tetapi miskin nurani. Pandai berbicara, tetapi gagap mendengar. Hebat berteori, tetapi lemah memberi contoh.
Menata Ulang Makna Gelar Sudah saatnya kita menata ulang cara pandang terhadap gelar akademik. Gelar seharusnya bukan mahkota, melainkan beban tanggung jawab moral. Semakin tinggi gelar, semakin besar kewajiban untuk bersikap adil, rendah hati, dan berpihak pada kebenaran. Pendidikan sejati tidak diukur dari berapa panjang titel seseorang, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan orang lain, menghadapi perbedaan, dan menggunakan ilmunya untuk kebaikan bersama.
Ketika gelar akademik bertambah, kebijaksanaan tidak otomatis ikut tumbuh. Ia harus dipelihara, dilatih, dan dijaga. Tanpa itu, gelar hanya akan menjadi hiasan kosong indah dipandang, tetapi rapuh nilainya.
Dan mungkin, pertanyaan terpenting bukan lagi “apa gelarmu?”, melainkan “apa yang kau lakukan dengan ilmumu?”
( - M. Giovanny Aulia' Vikry Firmansyah,S.Pd)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar