Dalam dunia pendidikan, akad kerja seharusnya menjadi pijakan awal yang menjamin kejelasan peran, tanggung jawab, dan hak antara lembaga dan tenaga pendidik. Namun, realitas di lapangan sering kali berkata lain. Tidak sedikit guru dan tenaga kependidikan yang mendapati bahwa apa yang disepakati di awal ternyata jauh berbeda dengan apa yang dijalani sehari - hari.
Akad di Atas Kertas, Realitas di Lapangan Pada awal penerimaan kerja, jobdesc biasanya disampaikan dengan rapi: mengajar mata pelajaran tertentu, jam kerja yang jelas, tugas administratif yang proporsional. Namun, setelah beberapa bulan berjalan, tugas mulai melebar ke mana - mana. Guru diminta merangkap sebagai staf administrasi, humas, pengelola media sosial, bahkan bagian logistik kegiatan lembaga. Masalahnya bukan pada tambahan tugas semata, melainkan pada ketiadaan kesepakatan ulang. Yang awalnya disebut “bantuan sementara” sering berubah menjadi kewajiban rutin tanpa kejelasan penghargaan atau kompensasi.
Pendidikan yang Mengajarkan Nilai, Tapi Mengabaikannya Ironisnya, lembaga pendidikan adalah tempat di mana nilai kejujuran, amanah, dan keadilan diajarkan setiap hari. Namun dalam praktik ketenagakerjaan, nilai-nilai itu justru kerap terabaikan. Akad kerja diperlakukan sekadar formalitas administratif, bukan perjanjian moral yang harus dijaga. Padahal, dalam perspektif etika terlebih dalam pendidikan berbasis nilai keagamaan akad adalah komitmen. Mengubah isi pekerjaan secara sepihak tanpa musyawarah adalah bentuk pengingkaran terhadap amanah itu sendiri.
Dampak Psikologis dan Profesional bagi Pendidik Ketidaksesuaian jobdesc tidak hanya berdampak pada beban kerja, tetapi juga pada kondisi psikologis pendidik. Rasa lelah yang berlipat, kejenuhan, hingga hilangnya motivasi mengajar kerap muncul. Guru yang seharusnya fokus pada pengembangan peserta didik justru tersedot pada urusan teknis yang jauh dari kompetensinya. Lebih jauh, kondisi ini melahirkan fenomena yang belakangan sering terjadi: guru keluar-masuk lembaga, bukan karena kurang loyal, tetapi karena merasa tidak dihargai secara profesional.
Antara Loyalitas dan Eksploitasi Terselubung Sering kali, ketidaksesuaian jobdesc dibungkus dengan narasi loyalitas dan pengabdian. Guru yang mempertanyakan tugas tambahan dianggap tidak ikhlas atau kurang berkomitmen. Padahal, loyalitas tidak pernah berarti membenarkan ketidakadilan. Pengabdian dalam pendidikan semestinya lahir dari kesadaran, bukan dari tekanan struktural yang memaksa pendidik menerima segala hal di luar kesepakatan awal.
Menuju Budaya Kerja yang Lebih Beradab Pendidikan yang bermartabat harus dimulai dari tata kelola sumber daya manusianya. Akad kerja perlu diposisikan sebagai kesepakatan hidup yang terbuka untuk evaluasi bersama, bukan dokumen mati. Jika ada perubahan kebutuhan lembaga, maka musyawarah, transparansi, dan penghargaan yang adil harus menjadi jalan utama. Dengan demikian, pendidik tidak hanya merasa dibutuhkan, tetapi juga dihargai. Dan lembaga pendidikan pun tidak sekadar mencetak manusia cerdas, tetapi juga mencontohkan praktik keadilan dalam kehidupan nyata.
"Ketidaksesuaian antara akad kerja dan jobdesc bukan persoalan sepele. Ia adalah cermin bagaimana lembaga pendidikan memandang martabat pendidiknya. Jika pendidikan ingin menjadi ruang pembentukan karakter, maka kejujuran dalam akad kerja harus menjadi pelajaran pertama yang dipraktikkan, bukan sekadar diajarkan."
( - M. Giovanny Aulia' Vikry Firmansyah,S.Pd)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar