Di banyak lembaga pendidikan hari ini, satu pemandangan kian lazim: guru datang dan pergi. Baru setahun mengajar, lalu pamit. Ada yang bertahan dua atau tiga tahun, lalu mengundurkan diri dengan alasan “pribadi”. Fenomena ini sering dipandang sepele, seolah wajar dalam dunia kerja modern. Padahal, ketika guru silih berganti, yang sesungguhnya terguncang bukan hanya administrasi sekolah, melainkan jantung pendidikan itu sendiri.
Pertanyaannya bukan sekadar mengapa guru resign, tetapi apa yang sedang tidak beres dalam ekosistem pendidikan kita?
Beban Kerja: Mengajar Bukan Lagi Pekerjaan Utama Dulu, menjadi guru identik dengan mengajar dan mendidik. Kini, mengajar justru sering menjadi pekerjaan tambahan. Guru dibebani laporan administratif, perangkat pembelajaran yang berlapis, target akreditasi, rapat tak berujung, hingga tuntutan citra lembaga di media sosial. Semua harus sempurna, rapi, dan cepat sering kali tanpa dukungan yang memadai.
Banyak guru pulang bukan dalam keadaan lelah fisik semata, tetapi lelah mental. Energi yang seharusnya dicurahkan untuk murid habis sebelum masuk kelas. Dalam kondisi seperti ini, idealisme guru perlahan terkikis. Bukan karena mereka tak cinta profesinya, tetapi karena pekerjaan ini berubah menjadi tekanan yang terus - menerus.
Kesejahteraan: Pengabdian yang Terlalu Murah Masalah klasik yang tak kunjung tuntas: kesejahteraan. Di banyak sekolah dan pesantren, gaji guru masih jauh dari kata layak. Ironisnya, tuntutan profesionalisme terus meningkat. Guru diminta total, loyal, dan siap berkorban, tetapi pengorbanan itu jarang dibalas dengan penghargaan yang setimpal. Tidak sedikit guru yang akhirnya resign bukan karena ingin kaya, melainkan karena ingin hidup layak. Mereka menikah, punya anak, punya tanggung jawab. Idealime tidak bisa terus hidup tanpa dapur yang mengepul. Ketika bertahan berarti menunda masa depan, maka keluar sering kali menjadi pilihan paling rasional.
Kepemimpinan: Faktor yang Sering Diabaikan Ada satu faktor yang kerap luput dibicarakan: kepemimpinan. Banyak guru sanggup bertahan dalam kondisi sulit jika merasa didengar, dihargai, dan dilindungi. Namun sebaliknya, kepemimpinan yang otoriter, kaku, atau alergi kritik menjadi alasan kuat bagi guru untuk pergi. Guru bukan mesin. Mereka butuh ruang dialog, bukan hanya perintah. Ketika aspirasi dianggap pembangkangan, ketika kritik dibaca sebagai ancaman, maka lembaga pendidikan berubah menjadi ruang yang tidak sehat. Dalam suasana seperti itu, resign bukan tanda ketidaksetiaan, melainkan bentuk penyelamatan diri.
Ketika Guru Pergi, Siapa yang Rugi? Sering kali lembaga merasa bisa dengan mudah mengganti guru yang keluar. Padahal, yang hilang bukan sekadar satu nama dalam daftar pengajar, melainkan pengalaman, kedekatan emosional dengan murid, dan kontinuitas pendidikan. Murid kembali beradaptasi, ritme belajar terganggu, dan kualitas pendidikan perlahan menurun tanpa disadari. Jika fenomena resign guru terus berulang, maka ini bukan lagi persoalan individu, melainkan kegagalan sistemik. Sistem yang menuntut banyak, memberi sedikit, dan jarang mau bercermin.
Saatnya Berbenah, Bukan Menyalahkan Mengurangi angka pengunduran diri guru tidak cukup dengan menuntut loyalitas atau mengingatkan tentang “niat awal mengabdi”. Yang dibutuhkan adalah keberanian berbenah: menyederhanakan beban kerja, memperjuangkan kesejahteraan yang manusiawi, dan menghadirkan kepemimpinan yang empatik. Guru yang sejahtera, didengar, dan dihargai tidak mudah pergi. Mereka akan bertahan, tumbuh, dan mendidik dengan sepenuh hati. Sebab pada akhirnya, pendidikan yang kuat lahir dari guru yang dimanusiakan, bukan yang terus diminta berkorban tanpa batas.
"Jika guru terus mengundurkan diri, jangan sibuk mencari pengganti carilah kesalahan pada cara kita memperlakukan mereka."
( - M. Giovanny Aulia' Vikry Firmansyah,S.Pd)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar