Ketika Kepemimpinan Tidak Lagi Tentang Sekolah Kepala sekolah idealnya adalah penjaga arah, penumbuh semangat, dan penguat budaya belajar. Namun dalam realitas, ada pola kepemimpinan yang pelan-pelan menggeser fokus dari membangun sekolah menjadi membangun citra diri. Di sinilah kita perlu membaca fenomena yang dalam psikologi dikenal sebagai kecenderungan Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Istilah ini bukan untuk memberi label medis, melainkan untuk membantu kita mengenali pola perilaku yang berdampak nyata pada iklim sekolah.
Apa Itu Pola Narsistik dalam Kepemimpinan? Pola narsistik ditandai oleh kebutuhan berlebihan akan pengakuan, sulit menerima kritik, minim empati, dan kecenderungan menjadikan jabatan sebagai panggung validasi diri. Dalam konteks sekolah, pola ini sering tersamar oleh wibawa, kefasihan berbicara, dan aktivitas publik yang tinggi. Sekilas tampak visioner. Dalam praktik, sering kali melelahkan bagi guru.
Tanda-Tanda Konkret yang Sering Terjadi di Sekolah Berikut gejala nyata yang bisa dikenali oleh guru dan staf:
- Semua keberhasilan selalu dinarasikan sebagai jasanya Saat sekolah mendapat penghargaan, yang ditonjolkan hanya peran kepala sekolah. Nama tim dan guru jarang disebut.
- Rapat menjadi forum satu arah, Rapat bukan ruang diskusi, tetapi ruang mendengarkan arahan panjang tanpa kesempatan memberi masukan.
- Kritik dianggap ancaman loyalitas, Guru yang memberi saran dicap “tidak sejalan” atau “kurang mendukung pimpinan”.
- Ada lingkaran orang dekat (inner circle), Penugasan, kepercayaan, dan akses informasi hanya berputar pada orang-orang tertentu, bukan berdasarkan kompetensi.
- Pencitraan lebih diutamakan daripada pembenahan kelas, Dokumentasi kegiatan sangat rapi untuk media sosial, tetapi supervisi pembelajaran jarang dilakukan.
- Guru bekerja dalam rasa takut, bukan rasa nyaman, Takut salah, takut dipanggil, takut dinilai negatif.
Dampaknya terhadap Budaya Sekolah (Yang Jarang Disadari) Budaya sekolah berubah perlahan: Guru menjadi pasif dan memilih aman, Kreativitas menurun karena khawatir disalahkan, Muncul kubu-kubuan di antara guru, Loyalitas bergeser: bukan pada sekolah, tetapi pada figur, Siswa merasakan suasana tegang dari para guru. Sekolah kehilangan suasana dialogis dan kekeluargaan.
Ilustrasi Kasus Nyata (Sering Terjadi) Program literasi hasil gagasan guru diklaim sebagai ide pimpinan saat laporan ke yayasan. Guru berprestasi tidak pernah diapresiasi karena tidak “dekat”. Guru kritis dipindah tugaskan ke bagian yang tidak strategis. Wakil kepala sekolah tidak berfungsi karena semua keputusan tersentral. Jika Anda pernah melihat ini, Anda tidak sendirian.
Mengapa Pola Ini Sulit Dikenali di Awal? Karena di awal, kepala sekolah tipe ini terlihat: Percaya diri, Komunikatif, Aktif di luar sekolah, Penuh gagasan besar. Namun waktu membuktikan: orientasinya bukan pada pertumbuhan tim, tetapi pada penguatan citra pribadi.
Apa yang Bisa Dilakukan Guru dan Sekolah? Untuk guru: Tetap profesional, jangan terjebak politik internal, Dokumentasikan setiap program dan kontribusi tim, Bangun solidaritas sehat antar guru.
Untuk sistem sekolah: Adakan evaluasi kepemimpinan berbasis tim, Hidupkan budaya musyawarah nyata, bukan formalitas,Perkuat peran wakil dan koordinator bidang.
Refleksi: Sekolah Bukan Panggung Ego Kepemimpinan pendidikan sejatinya tentang membuat orang lain bertumbuh. Ketika jabatan menjadi alat mencari pujian, yang perlahan rusak bukan hanya hubungan kerja, tetapi makna pendidikan itu sendiri.
"Tidak semua kepala sekolah seperti ini. Namun mengenali pola ini penting agar kita bisa menjaga budaya sekolah tetap sehat. Sekolah harus menjadi ruang kolaborasi, bukan ruang dominasi. Karena pada akhirnya, kepala sekolah yang baik tidak sibuk terlihat hebat, tetapi sibuk membuat gurunya hebat."
( - M. Giovanny Aulia' Vikry Firmansyah,S.Pd. )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar